Langsung ke konten utama

Indah Pada Waktunya (bag. 2)

Di sini pake gue pake "chapter-chapter" gitu. Ada dua chapter yang akan gue tampilin dari lanjutan cerbung pertama.


Chapter 2: Kembali ke Realita
Rabu, 8 Februari 2012
Hari ini, tepat 16 tahun teman baik ku, Ahmad, berulang tahun. Namun, hari ini juga sudah ku tunggu dari kemarin. Aku sudah merencanakan akan mengatakan cinta pada seorang wanita. Namanya, Putri. Sudah delapan bulan aku berteman dengannya dan aku rasa, aku punya perasaan lain padanya.
Di kantin, saat Ahmad mentraktir aku dan teman se-geng-nya makan, aku sudah berpikir matang untuk melakukannya. Di saat yang lainnya sedang memesan makanan, aku mengajak Putri menjauhkan diri dari keramaian.
“Put, mungkin kamu kaget atau heran dengan ku sebentar lagi. Tapi, janji dulu kalau kamu tak akan marah atau menjauhi ku nantinya. Ya?”
“Hmm, iya. Tak akan. Ada apa memang?”
“Aku suka dan cinta sama kamu. Pertama kali kenal dan menjadi sahabat mu, aku sudah kagum pada diri mu. Aku mau kamu jadi pacar ku. Apa kau menerima ku?” tanya ku dengan gugup namun diliputi emosi cinta yang tulus.
Gimana ya? Aku juga suka dan cinta pada mu. Namun, agama kita ‘kan beda,”  jawabnya dengan ragu dan lemah.
Aku jadi teringat. Dia adalah seorang Islam dan aku beragaama Katolik. Aku pikir, inilah halangan ku selama ini. Seumur hidup ku, aku belum pernah merasakan apa “asyiknya” berpacaran atau sejenisnya. Sejenak ku berpikir, ternyata Putri adalah wanita yang memikirkan masa depannya dengan matang dari sekarang.
“Lalu, keputusan mu?”
“Maaf, Rief. Jujur, aku cinta dan sayang dengan mu. Tapi, untuk sekarang, lebih baik kita berteman dan kalau mau, kita bisa saling menyayangi sebatas teman,”
“Aku mengerti jawaban mu, Put. Dan sepertinya, lebih baik kita berteman dan bersahabat seperti kamu bilang barusan,” timpal ku.
***
Selasa, 25 Desember 2012
Ingatan ku saat menyatakan cinta pada Putri sebelas bulan yang lalu, tiba-tiba kembali lagi. Aku ingat ketika Putri menolak ku karena kami berbeda agama dan dia lebih memilih berteman dengan ku. Pertemanan itu pun berlanjut sampai sekarang. Tapi, ya sudahlah. Aku lebih memilih untuk bisa berkonsentrasi merayakan hari besar agamaku ini.
Di rumah, kami memang jarang memasang pohon Natal. Selain di rumah hanya aku dan ibu yang merayakan, keluarga kami jugalah tidak terlalu banyak. Ayah juga pergi bekerja di saat hari libur. Beliau adalah pekerja dalam bidang transportasi.
Jam setengah tujuh, aku dibangunkan oleh ibu. “Kamu masih ingin pergi untuk Misa Natal pagi ini tidak?”
“Ya, Ma! Mama ikut tidak?” jawabku setengah berteriak karena ibu ada di luar kamar.
“Tidak. Kamu ‘kan tahu, kalo mama tidak biasa pergi ke Misa Natal yang pagi. Lagipula, nanti siang ada banyak keluarga kita yang datang. Jadi, mama harus persiapkan semuanya,” kata ibu menjelaskan.
“Ya sudah. Aku mau mandi dulu.”
Setelah mandi dan berpakaian rapi, aku pun siap pergi. Aku keluarkan mobil ayahku yang tidak dipakainya. Sudah beberapa hari ini, ayah tidak memakai mobilnya. Alasannya, karena ingin menghemat bahan bakarnya, jadinya ayah pergi dengan angkutan umum. Di dalam mobil, aku jadi teringat mimpiku semalam.
***
Aku melihat sosok wanita mirip ibuku semasa remaja. Wanita itu perlahan mendekatiku kemudian berbicara padaku.
“Kalau kamu mau menemukan cinta sejatimu, ubahlah dirimu dulu.”
Kemudian, wanita itu tersenyum dan pergi meninggalkanku dalam kesendirian di taman yang indah itu. Penasaran, aku coba ikuti dia. Namun, larinya sangat cepat dan segera menghilang dari pandanganku.
***
Kata-kata wanita itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Apa yang dia maksud dengan, “ubahlah dirimu dulu”? Aku masih bingung. Mungkin, sesuatu yang jelek dari diriku harus kuhilangkan.
Tanpa terasa aku sudah sampai di Gereja. Sengaja aku datang pagi agar dapat tempat parkir. Setelah memarkirkan kendaraanku, aku masuk dalam Gereja. Aku memilih duduk agak ke belakang, dekat dengan hiasan pohon Natal. Kala aku melihat pohon Natal itu, aku jadi teringat masa kecilku. Ketika aku, ibu, ayah, dan kakak memasang hiasannya bersama-sama. Mendekor ulang rumah agar tampak ceria. Pergi ke Misa Natal bersama-sama.
Tapi, semua sudah berubah. Ayah makin sibuk, ibu juga sudah makin menua, sedangkan kakak sudah Mualaf karena mengikuti suaminya.
“Biar anak-anak datang kepada-Ku. Itu sabda Yesus, dia memanggilku. Kini aku datang, siap mendengarkan. Kini aku datang, Yesus memanggilku..”
Lagu itu membuatku menangis. Kulihat sekelilingku bahagia beserta keluarganya masing-masing. Ada yang membawa bayinya dan juga kakek-neneknya. Mereka tampak bahagia dalam kebersamaan. Ingin rasanya seperti itu, mengulang kejadian masa kecil. Namun agaknya sulit terjadi lagi.



Chapter 3: Akting yang Menawan
Kamis, 6 September 2012
Pelajaran Bahasa Indonesia biasanya menjadi pelajaran faforitku. Namun, sementara ini tidak. Sejak bertemu dengan gurunya pertama kali, aku seakan merasa tidak nyaman diajar beliau. Namanya Pak Dar. Lengkapnya, H. Sudarna, S.Pd. Dari gelarnya saja sudah bisa ditebak bahwa beliau sangatlah agamis. Dan dugaanku benar. Beliau lebih sering mengajarkan hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an ketimbang materi Bahasa Indonesia itu sendiri.
Pernah sebelumnya, beliau mengatakan begini, “Assalam’mualaikum adalah sebuah doa untuk yang menjawabnya. Sedangkan Selamat Pagi adalah ungkapan belaka saja. Jadi, Bapak sudah berpesan pada kalian, Bapak tidak akan menjawab ucapan Selamat Pagi. Mengerti?”
Di kelasku ini, aku dikenal sebagai orang yang pendiam. Pendiam kalau belum bisa berteman, namun sangat supel dan dewasa jika sudah menjadi teman. Karena di kelas aku hanya memiliki beberapa teman, jadilah aku sebagai yang pendiam. Aku hanya punya beberapa teman dekat, Rima, Fajar, Yanti, dan Putri. Mereka teman sekelasku waktu kelas sepuluh. Putri juga jadi temanku. Dia yang aku taksir dulu, masih jadi sahabatku.
Karena banyak teman sekelas yang belum mengenal aku, maka mereka banyak yang penasaran. Tak terkecuali Ratna, anak kelas 10.6 yang sekarang sekelas denganku. Dia mirip dengan Putri, hanya rambutnya yang panjang menjadi pembedanya.
Dia tak henti-hentinya selalu menyapa dengan sapaan, “ Ariipp!!” Suaranya lantang memanggilku. Ia juga senang mencari perhatian padaku. Mulai dari bertanya tentang PR, bertanya tentang soal-soal yang sulit sampai pembahasan materi Bahasa Indonesia saat ini.
“Rip, subyeknya yang kata pertama itu ‘kan ya?”
“Hmm. Iya, kok kamu pintar sih?” candaku padanya.
“Hahaha.. Iyalah! Ratna, gitu!” ucapnya dengan bangga.
Saat dia bertanya padaku, sepertinya pandangan Ratna tertuju padaku. Sepertinya, ia menatapku. Aku pun balas menatapnya. Indah sekali matanya, yang buatku kagum darinya. Dan tampaknya, ia juga tetap menatapku. Oh, indahnya dunia! Batinku saat itu.
Berkali-kali, tubuhnya selalu dekat padaku. Tanpa sengaja, tanganku bersentuhan dengannya. Ia juga tampak salah tingkah dibuatnya. Saat ini pula, aku mulai ada rasa cinta padanya. Rasa yang gampang muncul padaku ketika suka dengan seorang wanita. Aku sempat berpikir, kapan aku akan menyatakan cinta padanya, namun aku hilangkan cepat-cepat pikiran itu. Aku tidak mau seperti itu. Aku takut dengan alasan penolakkan Putri waktu itu, ya, beda agama.
Hari ini adalah hari yang tak ‘kan kulupa. Hari di mana aku mengenal sosok wanita yang lain lagi. Membuatku kagum dan berkesan padanya. Semoga, ini juga menjadi pertanda baik untuk bisa lebih jauh mengenalnya.


Jumat, 7 September 2012
Setelah Shalat Jumat, aku dan teman sekelompokku berencana mengerjakan tugas kelompok Fisika. Fajar, satu-satunya pria Muslim di kelompokku, menjalankan Shalat Jumat. Sedangkan, aku sedang mengikuti pelajaran agama. Kebetulan, aku duluan yang selesai. Jadilah aku dan teman-teman wanitaku menunggu Fajar selesai.
“Jadinya bagaimana? Langsung saja?” tanya Fajar sambil memakai sepatunya di depan aku dan teman-teman.
“Iyalah! Tugas ini ‘kan lama membuatnya. Kalau kita kerjakan beberapa hari sebelum dikumpulkan, kita bisa repot,” tegas Wita. Wita adalah wanita yang sangat dewasa dalam berpikir, sekaligus tempat curhat bagi teman-teman wanita.
“Ya sudah. Di rumahku ‘kan?” tanya Fajar lagi.
“Iya!!” jawab Sari dan Yanti serempak. Sari adalah wanita yang sudah sering dapat beasiswa di sekolah sekaligus yang paling sering galau. Dan Yanti adalah wanita yang punya suara merdu dan menjadi dirigen paduan suara di sekolah.
“Okelah. Ayo!”
Jadilah kami semua pergi ke rumah Fajar. Aku dibonceng Fajar, sedangkan Sari, Yanti, Wita, dan Ratna naik angkutan umum. Tadinya, aku tidak mau kerja kelompok karena sudah terlalu lelah seharian ini. Namun, Ratna yang ikut, membuat aku jadi semangat bergabung bersama mereka.
Sampai di rumah Fajar, kami semua mulai mengerjakan tugas Fisika itu. Dengan cara belajar yang santai dan diselingi bercanda, aku pun dengan mudah mengerti. Candaan aku, Fajar, dan Ratna menjadikan suasana tidak terlalu tegang. Dalam satu jam, kami sudah selesai dengan tugas kami. Tiba-tiba, Fajar bilang begini pada kami, “Ngomong-ngomong, kita bicara yang lain dong?”
“Tentang apa?” timpal Sari.
“Bagaimana tentang pacar kita?” balas Fajar.
Aku pun diam saja mendengar pembicaraan mereka. Bukannya tidak mau ikut bicara, tapi fakta mengatakan yang lain. Aku sudah sering mengatakan cinta pada seorang wanita, tapi baru satu yang menerima. Itupun tidak bertahan lama, hanya tiga bulan dengan status yang tidak terlalu jelas.
Dari situ pula aku tahu kisah cinta Ratna. Dia baru saja menerima seorang lelaki sebagai pacarnya dua bulan yang lalu. Sang lelaki sudah dua kali menyatakan cinta pada Ratna dan baru yang kali kedua, Ratna terima. Tapi, Ratna tidak terlalu yakin pada sang lelaki itu. Dia tidak pernah bertegur sapa pada Ratna, sekalipun sudah bertemu secara langsung. Itulah yang membuat Ratna tidak nyaman dengan hubungan mereka itu.
Dalam hati, aku merasa senang. Entah mengapa. Mungkin ini yang disebut sebagai “bersenang-senang dalam penderitaan orang lain.” Tapi, di sisi lain, aku merasa bingung. Ratna sudah tidak nyaman dengan pacarnya. Dan lagi, ia juga tampak mencari perhatian padaku. Apa mungkin ia suka padaku? Atau, ia hanya akting belaka? Sungguh menawan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...