Langsung ke konten utama

~Momen Pendewasaan~

Gue rasa, blog ini tumbuh dan berkembang bersama gue. Saat gue lagi getol-getolnya ngeblog dan nulis, dalam frekuensi satu bulan bisa ngeluarin postingan 3 sampe 4 kali. Giliran gue lagi banyak tugas pun, blog gue sepi kayak kuburan kompeni.

Blog gue juga jadi pembelajaran buat keahlian nulis gue. Dari gaya bahasa yang lebay, sampe bahasa yang paling baku juga ada di sini. Itu juga sama kayak gue. Di usia yang masih kecil, gue lebih sering pake bahasa ‘aku-kamu’ trus lagi seneng banget nangis gara-gara diejek temen. Remaja, gue udah bisa nerima banyak tipe orang, juga udah pake bahasa gaul.. B-)

Balik lagi ke judul di atas, ‘Momen Pendewasaan’. Pendewasaan berarti proses menuju dewasa. *berhenti nulis* *inget materi imbuhan pe-* *stres* *hening sesaat*
~KRIK..KRIK..KRIK...~

Hahaha.. Yang barusan gak usah diliat. Dewasa itu gak langsung gitu aja terjadi. Butuh proses dari apa yang udah kita jalanin.

Umur yang dewasa (baca: tua), gak jadi jaminan dia udah bisa disebut jadi orang dewasa. Apalagi gue dan lo semua yang baru-baru ini punya KTP, alias udah 17 tahun, gengsi banget ngasih unjuk KTP lo ke temen atau ke orang lain. Menurut sebagian orang, punya KTP jadi sesuatu yang biasa aja. Ada lagi yang nganggep itu cuma jadi suatu kewajiban sebagai WNI.

Tapi, ada juga orang yang nganggep ini adalah suatu awal momen pendewasaannya. Kita punya KTP, berarti kita udah bisa melakukan “segalanya”. Karena itu, “segalanya” tadi haruslah dipertanggung jawabkan. Dulu pas masih kecil, apapun yang kita perbuat jadi tanggung jawab orang tua. Apalagi buat cewek, peran orang tua khusunya ibu mereka, penting banget pas mereka ngalamin pubertas pertama.

Sekarang buat lo semua (dan gue) yang punya KTP, camkanlah ini! *petir* *gue kena* Zzz..zzz..zzz..

Gue setuju dengan anggapan kalo KTP jadi awal pendewasaan. Segala yang kita lakuin adalah hasil pemikiran kita. Maksudnya, kalo kita mikir pengen dapetin uang lebih, kita akan ngelakuin usaha yang bener dong? Entah mau kerja lembur (buat lo yang udah kerja) atau nunjukin hasil ulangan yang bagus karena kita udah giat belajar (dengan harapan, ortu seneng dan ngasih bonus jajan ke kita).

Hasil yang kita peroleh adalah wujud dari perbuatan, berasal dari pemikiran matang~

Pikiran yang matang bisa kita sebut sebagai pikiran dewasa. Dewasa udah bisa mikir dan punya akal sehat, kalo kata emak gue. *Lah? Dulu gue mikir pake apaan?!*

Mungkin dulu, kita cuma bisa mikir buat kepentingan kita dan bukan untuk orang lain. Maka dari itu, buat gue dan lo semua yang ada di gerbang 17 tahun ini, belajarlah jadi dewasa. Pikirin deh apa yang udah dan akan lo buat plus cepet-cepet perbaikin yang gak baik, salah satunya dengan memaafkan. Usahakanlah apa yang menurut lo bener dan tetep pada pendirian~ 

BYE! B-) “always hoping you as the miracle~”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

MAKANSEMAUNYA REWIND 2020! THANK YOU 140++ FOLLOWERS!

Tanggal 31 Desember 2020 kali ini tidak lengkap rasanya kalau gue ga coba bahas timeline gue tahun ini. Khususnya timeline IG kuliner gue yaitu @makansemaunya . Akun yang gue rintis dari November 2018 hingga sekarang ini udah memiliki 140++ pengikut, baik yang kenal ataupun ngga sama gue di real life. Dengan jumlah postingan lebih dari 60 di tahun 2020, akun kuliner ini sudah memberikan setidaknya perasaan lapar pada pengikutnya di tengah malam. Juga, sudah memberikan info tempat makan yang tentunya dijamin enak. Berikut akan gue kasih beberapa kuliner yang memorable untuk gue selama satu tahun ini. Enjoy! 1. Makanan awal tahun Salah satu kuliner di event @indonesiacareer pada bulan Januari 2020. Waktu itu memang gue sengaja datang ke Gedung Smesco Jakarta untuk ikut event jobfair gitu. Sayang banget dong kalo di sana cuma naroh "amplop coklat"? Nah, makanan ini adalah salah satu comfort food di sana. Nasi dengan beragam lauk ala warteg gitu. Selain yang gue makan ini, masih...