Langsung ke konten utama

Lebih dari Sekedar Ambigu


Gak henti-hentinya gue buat ‘curhatan’ di blog. Jujur, semenjak gue kelas XI gue jarang cerita masalah gue ke orang lain. Apalagi cerita masalah hal sepele. Ngeluarin suara aja males.
Sebenernya sih, bukan gak mau cerita tapi MALES aja. You know, kalo orang udah bilang males konotasinya pasti jelek.
Beda aja rasanya pas gue kelas 9 dan 10 yang lalu. Ada beberapa orang yang gue udah percaya sama dia. Jadi, kalo mau ngomong macem-macem juga gak kenapa-kenapa juga. Sekarang hampir mirip kayak suasana kelas 8. Emang sekelas ‘suka’ sama gue (it means good or bad, i don’t know), tapi tetep aja gak ada orang yang bisa gue percaya~
Terus, hubungannya sama keAMBIGUan apa?! -__-“
Tiap orang dikaruniai Tuhan buat punya perasaan apapun, gue tegasin lagi APAPUN. Mau lo orangnya bete-an, lo gampang emosi, atau sekalipun lo gak pernah marah, itu karunia Tuhan. Mungkin gue adalah orang yang nyimpen all of my feels just in myself.*jangan ditiru!!*
Emang hal itu buruk dan gue akuin itu. Gue mau ngubah hal itu, entah gimana caranya. Semua perasaan dan pengalaman gue itu ada yang sampe sekarang gue tutup rapet-rapet. Gue gak tau kapan akan gue ungkapkan itu.
Masalah terbesarnya adalah sikap gue ketika ada masalah dan gue gak mau cerita. Sikap gue macem-macemlah. Bisa diem seharian, atau diem seperlunya dan bisa jadi gue terus ngehibur orang sepanjang waktu.
Itulah ambigu kehidupan kalo menurut gue. Di satu sisi kita ceria, namun jauh di dalem hati tersimpan perih yang luar biasa. Perih yang kadang gak bisa diobati cepet tapi perlahan, oleh bantuan ‘multivitamin’ yang bener.
Kode-kode kehidupan juga gak selamanya sesuai. Kode gebetan atau temen lo, bukan berarti dia suka atau nunggu lo tembak. Kode orang tua lo, bukan berarti mereka ingin membuat hidup lo makin merana. Kode temen-temen lo, gak selamanya pengen ngebuat lo berubah jadi yang lebih buruk.
Itu semua tergantung dari sikap orang-orang di dalemnya. Mau nerima kode itu dan ngelakuin ‘apa yang seharusnya terjadi’. Atau mau nolak kode itu dan ngelakuin ‘apa yang lo yakini bener plus sesuai sama intuisi lo’. 
Terakhir, gue juga pengen sangat jujur. I really need girlfriend. Gue rasa orang yang mungkin akan ngerti gue selain orang tua dan beberapa temen deket adalah pacar. Pacar adalah orang yang pikiran dan kadang, hatinya sama dengan pasangannya. *itu juga kata gue lho.. -_-v
 Intinya, ke-AMBIGU-an di hidup lo itu penuh arti. Gak semuanya ada di posisi yang BENER dan gak semua di posisi yang SALAH.
nb: KODE=sikap atau tanda dari orang lain yang biasanya dijadikan ‘pedoman’ beberapa orang dalam berkelakuan. *gue kagak*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...