Langsung ke konten utama

MEMBAHAS RELASI FRIENDZONE DENGAN POV SEORANG YANG TUNGGAL (#CILOKeps1)

"Kamu ngampus ngga hari ini?"

"Ngga tau nih. Kayaknya sih ngga. *emot senyum keringetan*"

"Yaaah. Ng4MpU5 aJ44ah 5iCCH. *emot mata berbinar sama emot tangan mengatup*"

.... (15 menit belom dibales)

"AkkUUh K4n kAAnG33n. *emot bibir monyong kayak pengen nyium ama emot senyum manis"

~~~~~

Hayo, siapa yang suka begitu? Hahaha.

Perkara saling peduli ini berisiko. Kadang, cuma temenan tapi nyatanya lebih mesra dibanding sama pacar aslinya. Ada lagi yang bilang kalo hubungan kayak gitu terjadi karena ada maunya. Bisa jadi satu pihak doang yang diuntungkan, atau, dua-duanya diuntungkan. Simbiosis mutualisme lah yang paling ideal supaya hubungan kayak gitu "langgeng".

Di konten #CILOK gue yang pertama ini, gue akan bahas tentang relasi friendzone yang menghantui angan-angan jadian. Tentunya, dari sudut pandang (point of view) seorang jomblo keren ini.


Jadi, bersiaplah untuk masuk ke dunia #CILOK
Cinta-cintaan Jomblo Keren
Episode 1
FRIENDZONE


Pengalaman membina hubungan friendzone ini udah sering gue jalanin. Karena kebetulan gue yang ngalamin atau temen gue yang ngerasain. Circle pertemanan gue sering banget kena tuh jebakan yang namanya friendzone.

Kalo diliat dari katanya, "friendzone" ini kan sebenernya bagus ya maknanya. Diambil dari kata "friend" yang artinya temen. Tapi, makna baik ini berubah ketika seorang yang nembak seorang yang lain, lalu si orang yang ditembak itu bilang, "Kita temenan aja ya?" yang disusul senyum manis ngeselin itu. Muncullah kata "-zone" yang menambah makna istilah ini jadi "zona temenan (aja)"

"Kamu terlalu baik buat aku."

"Aku udah nyaman kita temenan begini."

"AKU UDAH NGANGGEP KAMU KAYAK KAKAK AKU SENDIRI."

*mengheningkan cipta... mulai...*

Alasan-alasan itu intinya sama. Si orang yang ditembak ya ngga mau jadian sama lu! Nah, motifnya ini yang bisa macem-macem. Satu, karena si yang ditembak jujur dengan apa yang dia ucapin tadi sehingga itu bukan alibi atau alasan basa-basi doang. Kedua, karena si yang ditembak sebenernya ada rasa sama lu tapi dia ngga mau pacaran. Ketiga, karena si yang ditembak itu EMANG KESEL AJA GITU SAMA LU! EMANG KAGA MAU JADIAN GITU LOOOOH.

Untuk kalian kalangan sekolah, SMP atau SMA, gregetnya kata pacaran itu kayak segalanya kan? Jujur deh, kalian tidak bisa menampik kalo gejolak muda lu berteriak ingin segera dipacari atau memacari.

Di satu sisi, untuk kalian kalangan kuliah dan kalangan pekerja muda, gregetnya pacaran tuh ngga terlalu hype kayak dulu. Dapet pacar syukur, kalo ngga juga yaudah nyantai aja. Terkecuali buat para wanita nih. Kalian justru pengen cepet dinikahin kan??

Buat kaum pria, gimana? Ada dua kalangan pria di umur 20an. Satu, si workaholic atau si pekerja keras yang sangat fokus mengejar kuliah dan karirnya supaya cepet mapan. Atau yang kedua, si bangsat yang suka jalin hubungan sama cewe tapi cuma bikin baper.

Kata-kata legend Raditya Dika bilang, "Ada dua golongan pria. Kalo ngga homo, ya dia brengsek."

Gue sebagai orang yang udah 20an menganggap bahwa tuntutan nikah itu wajar. Apalagi kalo lu adalah wanita yang emang pengen nikah atau lu adalah pria yang udah mapan dan siap meminang cewe lu. Hubungannya dengan friendzone apaan dah?


Bentar, gue benerin sempak dulu.


Sebelum gue lanjut bahas, gue mau disclaimer dulu kalo yang gue bicarain ini ngga mandang agama atau suku tertentu ya. Yang gue bahas adalah yang umum, yang emang dirasain sama kalian-kalian para penikmat wifi cafe.

Hubungan friendzone yang dibalut dengan hubungan cinta beneran itu bahaya. Pun, hubungan friendzone yang cuma pas butuhnya doang adalah lebih bahaya.

Nyinyiran netizen rakyat +62 yang sering menimpa kalian, para kaum friendzoner, kadang-kadang bisa dipertimbangkan. "Masa si A gandengan mulu sama si B?! Padahal kan si A udah punya pacar si F! Trus, si B nya juga kan ada yang nyukain tuh, si G! Idih, kok aneh yaa??"

Mau kayak gimanapun, hubungan "temenan aja" itu pada akhirnya ya harus segera diputuskan. Apakah berlanjut serius? Atau, terima nasib kalo masing-masing bakalan lanjut sama yang lain? Sama kayak hubungan-hubungan lain yang bisa jadi gue bahas di postingan selanjutnya.

Kita, gue dan lu semua, juga ngga bisa memungkiri kalo hubungan friendzone tuh enak! Racun emang yang enak-enak tuh!

Seorang akan merengek, merajuk, meminta-minta sama si partnernya buat ngebeliin atau ngelakuin sesuatu. Kayak dialog yang gue tulis di awal itu tuh. Buat apa coba si A nyuruh si B ke kampus? Padahal, si B itu ada urusan lain di luar kampus. Dibujuk-bujuk, eh si B akhirnya nurut aja gitu sama si A.

Terus ya, enaknya friendzone itu adalah kita serasa punya pasangan beneran, padahal faktanya kita itu cuma sahabatan doang! Yang terbaik itu adalah ketika kita cemburu-cemburuan padahal kita tau kalo masing-masing ini sukanya sama yang lain! Keblinger amat dah. wkwk

Di jaman yang apa-apa udah bisa dipesen lewat ojek online ini, hubungan friendzone tuh udah mulai banyak variasinya. Terlebih, variasi yang dibumbui sama urusan selangkangan. Sebut saja dari One Night Stand (ONS) sampe ke hubungan kayak Friend with Benefits (FWB). Kedua istilah itu merujuk ke hubungan intim yang ngga mengikat, yang tentunya ngga baik juga. Link buat tau lebih lanjut tentang ONS atau FWB, bisa diklik di akhir postingan ini.

Pada akhirnya, friendzone tuh memang sudah semestinya dihentikan demi keberlangsungan perasaan. Biar ngga ada baper-baper lagi tuh. Biar kalo temenan, ya emang karena temenan. KECUALI, kalian yang ngejalaninnya ya fine-fine aja dan ngga ngerasa dirugiin.

Sekian.

Salam, dari gue bubuk micin stik kentang.


Link tambahan info:
https://en.wikipedia.org/wiki/Friends_with_benefits
https://en.wikipedia.org/wiki/Casual_sex
https://www.brilio.net/creator/hubungan-gak-jelas-ini-perbedaan-dari-friendzone-fwb-dan-ons-yang-perlu-kamu-tahu--073110.html#

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...