Langsung ke konten utama

PENGALAMAN JALAN KAKI DARI PERPUSNAS KE JUANDA DIPANDU GOOGLE MAPS??! BISA EMANG??!! (#JAJANbag4)

Perjalanan dengan jalan kaki memang ngga senyaman perjalanan dengan transportasi pada umumnya. Jalan kaki itu adalah "alat transportasi" manusia yang paling sederhana. Kalo kalian pergi pake kendaraan, entah umum atau pribadi, diperlukan modal tertentu. Ya semacam uang ongkos untuk naik kendaraan umum atau bensin yang juga dibeli pake uang untuk bisa ngejalanin kendaraan pribadi kalian. Jalan kaki? Ngga perlu yang kayak gitu. CUKUP PAKE KAKI KALIAN SENDIRI DAN GRAAATIIIIS! 

Sebagai kaum urban yang aktivitasnya melelahkan, penduduk Jakarta dan kota metropolitan lainnya memerlukan sarana pendukung untuk menjalankan aktivitas perpindahan gratisnya itu. Sarana yang gue maksud adalah TROTOAR.

Katanya, trotoar menjadi indikator atau ciri bahwa suatu kota atau daerah tersebut ramah pejalan kaki. Yang gue tau dulu, trotoar ya cuma tempat kalian jalan aja. Jalan di pinggir jalan ya udah termasuk sebagai bagian dari trotoar.

Tapi, sekarang gue baru menyadari kalo trotoar bukan sekadar "tempat jalan di pinggir jalan". Diperlukan tempat yang cukup layak yang porsinya imbang dengan jalan raya. 

Gue seminggu kemaren suntuk banget. Hiburan gue hanya kucing yang lagi nakal-nakalnya karena baru dua bulan dan kartun spongebob yang tiap pagi, siang, sore ada mulu di tipi. Makanya, gue merencanakan untuk pergi, menyesatkan diri ke Jakarta.

Ide menyusuri jalan ini datang ketika gue lagi di perjalanan berangkat dari Tangerang ke Perpusnas. Memang, awalnya gue merencanakan untuk pergi ke Perpusnas. Alih-alih ngerjain sesuatu, gue cuma ngedownload aplikasi editing video dan foto pake wifi gratis. Plus, liat-liat yang cakep-cakep.

Ide gue adalah bisa ngga ya gue jalan dari Perpusnas ke Halte TJ Juanda. Kirain, halte juanda jauh dari perpusnas. Emang guenya aja yang dasarnya kuper, ternyata halte juanda masih di sekitaran jalan protokol Jakarta. Yang mana, ngga jauh dari perpusnas. Sekitar 2 kiloan, tentu bukan kilogram ya.

Kenapa ke halte juanda? Ini gue lakuin karena gue kepo dengan rute T12 (Poris Plawad-Juanda) yang jarang banget gue naikin. Sekadar info, Transjakarta juga punya armada khusus dari dan ke Tangerang. Dua di antaranya adalah T11 (Poris Plawad-Bundaran Senayan) dan T12 (Poris Plawad-Juanda). Setelah gue cek, ternyata keduanya cukup beda, terutama di banyaknya pemberhentian.

Ini rute T11
Bandingkan dengan rute T12 berikut.
Ini rute T12

Sekilas, bisa dilihat kalo T11 lebih panjang rutenya dan lebih banyak pemberhentiannya. T12 justru lebih sedikit dan akan lebih sedikit lagi pemberhentiannya jika menuju ke Poris dari Juanda

Sambil menyelam minum air, gue juga mikir kalo gue bisa sekalian survey tempat-tempat makan yang sekiranya bisa gue kunjungi next time.

So, bermodal Google Maps yang gue yakin akurat, gue mencoba berjalan kaki menyusuri jalan Jakarta dari Perpusnas ke Halte TJ Juanda.

Keluar dari gedung Perpusnas, Google Maps kasih tau kalo gue bisa masuk ke area Monas yang bakalan tembus ke arah Jalan Medan Merdeka Utara. Cukup membingungkan awalnya karena ternyata Monas bagian Selatan sedang ada revitalisasi. Tau kan? Yang heboh pohon-pohon ditebang (atau dipindah) itu lho. Jadi, gue memakai ilmu sok tau gue dan berhasil.

Sepanjang perjalanan melewati area Monas, gue juga baru tau ada semacam kantin atau food court yang jual banyak makanan kaki lima. Plus, ada juga yang jual souvenir macam kaos, topi, dan temen-temennya.

Gue sedikit beruntung tidak nyasar karena hari itu adalah hari Sabtu. Hari Sabtu tentu rame pengunjung sehingga gue cukup mudah buat tau di mana jalan keluar masuk pengunjung.

Setelah melewati area dagang, gue masuk ke area jalan gede menuju tugu Monas nya. Cukup asri karena banyak pohon dan di saat bersamaan cukup panas karena matahari lagi ngga nentu. Kadang terik banget, kadang ketutup awan. 

Jalan kaki gue dari Perpusnas ke Juanda
Titik-titik abu itu adalah jarak yang harus gue tempuh untuk melewati area Monas. Cukup jauh yak? Ngga nyangka gue juga. hehe.

Patokan gue untuk tau di gerbang mana gue harus keluar dari Monas adalah keberadaan kubah Masjid Istiqlal dan Menara Gereja Katedral. Kedua rumah ibadah itu merupakan penanda bahwa gue semakin deket dengan tujuan gue yaitu area Juanda.

Keluar Monas, gue mulai menyusuri jalan sesuai arahan Google Maps. Cukup nyaman dengan trotoar yang cukup luas, bisa untuk jalan dua arah dan masih lega. Lalu, gue diarahkan untuk melewati Jalan Veteran II. Patokannya, ada di antara gedung MK dan Kemendagri. Gue cukup seneng karena di jalan yang tergolong kecil ini, trotoarnya cukup oke. Ya walaupun masih ada sedikit yang bisa dibenerin, tapi gue masih bisa dengan nyaman jalan di sini. 

Gue lanjutin ikutin jalan itu sampai di ujung dan berbelok ke kanan. Patokan kalo udah deket belokan adalah lu nemu gedung BRI dan di ujung jalan itu ada rumah makan padang yang cukup gede. Setelahnya, lu ikutin aja petunjuk Google Maps yang akan mengarahkan lu ke Halte TJ Juanda (atau Stasiun Juanda).

Garis biru muda itu adalah jalan yang gue lewatin di Jl. Veteran II
Sekadar info, gambar barusan berasal dari timeline atau linimasa Google Maps gue. Fitur ini mendeteksi arah jalan gue. Gue yakin sih, ini ngga terlalu akurat tapi kurang lebih begini deh.

Sampai di Juanda, gue laper. Gue menjatuhkan pilihan pada mie ayam gerobak yang ngga jauh dari pintu masuk Stasiun Juanda. Review lengkapnya di ig @makansemaunya yaa.

Mie Ayam Pangsit seharga 12k! MANTAP!


Kesimpulan dari perjalanan gue ini adalah:
1. Google Maps bisa diandalkan! Tingkat akurasinya menurut gue sekitar 90 persen!
2. Trotoar Jakarta secara umum memuaskan. Gue harap, trotoar yang baik ini udah menyeluruh ada di Jakarta. Lebih seneng lagi, kalo di Serang dan Tangerang (tempat yang masih sering gue kunjungi) juga bisa nyontoh Jakarta.
3. Kuliner tersembunyi ternyata banyak! Gue harus sering-sering blusukan di ibukota kayaknya.


APAKAH BISA JALAN KAKI DARI PERPUSNAS KE JUANDA PAKE GOOGLE MAPS? JAWABANNYA, BISA!

Sekian.
Salam dari aku sang pemuja mie ayam banyak daun bawang!


Special thanks to:
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Google Maps
Transjakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

MAKANSEMAUNYA REWIND 2020! THANK YOU 140++ FOLLOWERS!

Tanggal 31 Desember 2020 kali ini tidak lengkap rasanya kalau gue ga coba bahas timeline gue tahun ini. Khususnya timeline IG kuliner gue yaitu @makansemaunya . Akun yang gue rintis dari November 2018 hingga sekarang ini udah memiliki 140++ pengikut, baik yang kenal ataupun ngga sama gue di real life. Dengan jumlah postingan lebih dari 60 di tahun 2020, akun kuliner ini sudah memberikan setidaknya perasaan lapar pada pengikutnya di tengah malam. Juga, sudah memberikan info tempat makan yang tentunya dijamin enak. Berikut akan gue kasih beberapa kuliner yang memorable untuk gue selama satu tahun ini. Enjoy! 1. Makanan awal tahun Salah satu kuliner di event @indonesiacareer pada bulan Januari 2020. Waktu itu memang gue sengaja datang ke Gedung Smesco Jakarta untuk ikut event jobfair gitu. Sayang banget dong kalo di sana cuma naroh "amplop coklat"? Nah, makanan ini adalah salah satu comfort food di sana. Nasi dengan beragam lauk ala warteg gitu. Selain yang gue makan ini, masih...