Langsung ke konten utama

SOCIAL DISTANCING UNTUK DEACTIVATING CORONA VIRUS. SEBUAH ANJURAN YANG GUE BANGET! (#PERMENeps4)

Sumber gambar: infeksiemerging.kemkes.go.id

Awal tahun ini kita dihebohkan dengan virus Corona. Gue pribadi sih awalnya ngerasa aman-aman aja karena itu terjadi di Tiongkok nan jaaauuuh dari Tangerang. Tanpa disangka, per tanggal 16 Maret 2020, sudah ada 117 orang yang positif terjangkit COVID-19 di Indonesia.

hmmm...

Jika dibandingkan dengan data dunia, Indonesia memang tidak seberapa sih. Pun jika dibandingkan dengan kasus COVID-19 di negara asalnya yaitu Tiongkok. Di sana, sebanyak lebih dari 80 ribu kasus yang dikonfirmasi namun sudah ada lebih dari 60 ribu kasus yang sembuh.

Puji Tuhan. Alhamdulillah.

Sumber data: infeksiemerging.kemkes.go.id

Well, emang virus ini bikin sedunia panik, heboh, dan waspada. Indonesia juga ngalamin kepanikan itu.

Ada yang nyikapinnya lebay.
"BORONG SEMUA MIE!! BORONG BERAS!! NAIKIN HARGA MASKER!!"

Ada yang ketakutan.
"HAND SANITIZER GUE MANA YA? GUE TIAP 5 MENIT HARUS PAKE NIIH!"

Ada yang biasa aja.
"Bro, ngga takut sama virus itu tuh?"
"Corona? Ngga takut gue, bro! SELOW!" (lagi nyuap makanan pake tangan)
"HEH! LU UDAH CUCI TANGAN BELOM?"
"UDAH. TADI ABIS BOKER." *poker face*
*besoknya dibawa ke rsud terdekat* *tepok jidat*


Hari Minggu kemarin, Indonesia secara resmi melakukan himbauan pada warganya untuk melakukan Social Distancing. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan maupun penanganan penyakit COVID-19 agar tidak semakin merebak di wilayah Indonesia.


Social distancing tuh apa sih?
Dan, gimana penerapannya?
Inilah #PERMEN
PERMASALAHAN MILENIAL
Social Distancing


Social distancing secara harfiah berarti memberi jarak pada interaksi sosial. Gerakan ini bermaksud untuk mengajak masyarakat agar tidak banyak melakukan kegiatan di luar rumah dan membatasi interaksi sosial yang memungkinkan terjadinya kontak fisik. Social distancing yang paling mudah misalnya ngga jabat tangan dulu dan ngga keluar rumah dulu,

Hal itu bisa banget gue rasain pas ikut Misa di Gereja hari Minggu kemaren. Fyi, Misa hari Minggu sore itu biasanya lumayan rame kalo di Gereja gue. Ya setidaknya, kursi baris depan deket Altar cukup penuh lah. Gue kaget ketika liat kondisi Misa kemaren. SEPI! SUNYI! KAYAK PAS MAU NGAKU DOSA AJA. *ups

Serius deh, sepi banget. Bangku sebaris itu padahal bisa muat untuk 6 orang duduk. Lha ini cuma tiga orang, dua orang, bahkan seorang dalam satu baris bangku itu! Gue dalem hati mikir kalo ini bakal penuh ketika 5 menit Misa mulai, eh ternyata sama aja. Huft.

Hal lain yang baru gue temuin adalah adanya hand sanitizer yang diletakkan di deket pintu masuk. Plus, adanya permohonan dari pihak Gereja untuk tidak berjabat tangan saat melakukan Salam Damai. Kikuk banget gue. Salam Damai yang biasa dilakuin dengan jabat tangan, kali itu harus dilakuin dengan sikap namaste dan atau sikap menganggukkan kepala.


Lalu..
Hari ini, tepat hari Senin. Banyak kegiatan yang sengaja ditunda dalam jangka waktu dua minggu ke depan. Salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah. Para siswa diinstruksikan untuk tidak ke sekolah terlebih dulu dan hendaknya belajar di rumah. Ini berlaku juga untuk siswa kelas 12 SMK yang hari ini sedianya UNBK. Gue ngga tau ya bagaimana mereka-mereka yang libur ini. Mungkin ada yang beneran belajar, atau rebahan aja, atau malah liburan beneran. *tepok jidat*


Kemudian..
Hari ini juga, tepat hari Senin. Transjakarta, MRT, LRT, dan Mikrotrans di DKI Jakarta juga dibatasi. Misalnya saja, TJ yang jam operasionalnya hanya dari jam 06.00 sampai pukul 18.00. Ditambah, dengan pembatasan penumpang untuk setiap armadanya. Padahal, social distancing itu juga berlaku ketika penumpang sedang mengantri dan tidak hanya ketika penumpang ada di dalam kendaraan. Bener sih, dalem kendaraannya aman. Tapi, yang ngantri kan desek-desekan. Kaga ngaruh jugaa wooy!


Gue pribadi sih fine-fine aja dengan "pembatasan jarak" ini.
Ya iyalah, gue kan Drs.
(di rumah saja)
joke jadul. maapin.


Nah, berikut beberapa hal yang bisa kita praktikkan untuk mencegah dan mengatasi COVID-19. Syukur kalo bisa dilanjut selamanya. hehe.

1. RAJIN CUCI TANGAN PAKAI SABUN DENGAN LANGKAH TEPAT SELAMA KURANG LEBIH 20-30 DETIK.
kalo 30 menit, kamu lagi mandi berarti.

2. HINDARI KERUMUNAN RAMAI.
kalo lagi ada yang kecelakaan, ya bantu. jangan diliatin doang, kampret.

3. MASKER DIPERUNTUKKAN BAGI ORANG YANG SEDANG SAKIT DAN ORANG YANG SEDANG NGERAWAT ORANG SAKIT.
buat kamu yang sehat, mending ngga usah pake deh. pake masker wajah aja biar muka makin kinclong. *padahal, sendirinya ngga pernah pake. hiks*

4. KALO BERSIN, TUTUP PAKE TISU DAN LANGSUNG BUANG.
inget ya, langsung buang. jangan disimpen, dipigura, digantungin. lu kira poto wisuda.

5. KALO BERSIN DAN NGGA PUNYA TISU, BERSINLAH DI BAGIAN DALAM SIKU.
lumayan, itung-itung latian pose buat poto di instagram.

dan lain-lain. Silakan lu googling sendiri deh. Bisa dong? Kalo kuota lu abis, minta tetring bokap, nyokap, kaka, adek, tetangga, atau kang galon terdekat dah.


Semoga pandemik COVID-19 ini semakin mereda dan ngga bikin penduduk dunia khawatir yaa. Aamiin.

STAY HEALTHY!
STAY SAFE!
STAY POSITIVE!


Link yang gue pake untuk update info terbaru dan info-info preventif lainnya:
https://www.kemkes.go.id/
http://ksp.go.id/pemerintah-terbitkan-protokol-kesehatan-penanganan-covid-19/index.html
https://infeksiemerging.kemkes.go.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...