Langsung ke konten utama

Another Stories (1)



Aduh Aing 

*this text is inspired by one of my friend*

Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?)

Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously. Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__-

Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh? Almost 90% of his life, digunain buat ngeluh. Ketika dia ngeluh, akan muncul istilah itu tuh. Yang gue tulis jadi judul. Aduh aing istilahnya dia. Gue dan temen-temen lainnya udah hapal sama kelakuan nih anak kalo udah nyebut istilah itu.

Aduh aing berasal dari dua kata, “aduh” dan “aing”(?) *masa sih, maaaass??!* Menurut KBBI, “aduh” adalah sebuah kata seru untuk menyatakan rasa heran, sakit, dsb. Sedangkan, “aing” merupakan bahasa Sunda kasar yang artinya saya (Sunda halusnya abdi, urang, dll). Jadi kalo secara harfiah gue artiin, “aduh aing” tuh ngegambarin rasa sakit atau pusing terhadap dirinya sendiri.

Mungkin relevan sih (ciaelah, bahasanya “relevan” :p ) kalo dikaitin sama rutinitas gue, temen-temen gue, dan kakak-kakak tingkat gue yang selalu berkutat dengan tugas. Laporan, kuis, tugas individu, tugas kelompok, praktikum, dan seterusnya. Semua orang (mungkin) akan setuju dengan hipotesis gue kalo kita akan punya titik kejenuhan dalam menjalani hidup atau sekolah atau kuliah. Saking banyaknya hal yang harus dilakuin, maka kita justru akan bingung dengan prioritas hal yang harus dikerjakan. Sampai di titik itu, dengan mudahnya kita akan nyari pelampiasan. Ya. “PELAMPIASAN”. Bisa dengan jalan-jalan sejenak, tidur, makan, denger musik atau hal-hal yang “if you know what I mean”.

Nukleusnya alias intinya, semua akan tetep jadi RENCANA, WACANA, IMPIAN kalo lu CUMA MIKIR. Berbuatlah sesuatu, setidaknya cobalah dulu apa yang harus dikerjakan itu.

Mengutip suatu ayat di Alkitab (mohon maaf kalo salah dan kalo gak sama persis) kalo kesusahan sehari, biarlaah menjadi kesusahanmu di hari itu. Biarlah Tuhan yang ngebantu apa yang jadi keresahan lu.

SEKIAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

MAKANSEMAUNYA REWIND 2020! THANK YOU 140++ FOLLOWERS!

Tanggal 31 Desember 2020 kali ini tidak lengkap rasanya kalau gue ga coba bahas timeline gue tahun ini. Khususnya timeline IG kuliner gue yaitu @makansemaunya . Akun yang gue rintis dari November 2018 hingga sekarang ini udah memiliki 140++ pengikut, baik yang kenal ataupun ngga sama gue di real life. Dengan jumlah postingan lebih dari 60 di tahun 2020, akun kuliner ini sudah memberikan setidaknya perasaan lapar pada pengikutnya di tengah malam. Juga, sudah memberikan info tempat makan yang tentunya dijamin enak. Berikut akan gue kasih beberapa kuliner yang memorable untuk gue selama satu tahun ini. Enjoy! 1. Makanan awal tahun Salah satu kuliner di event @indonesiacareer pada bulan Januari 2020. Waktu itu memang gue sengaja datang ke Gedung Smesco Jakarta untuk ikut event jobfair gitu. Sayang banget dong kalo di sana cuma naroh "amplop coklat"? Nah, makanan ini adalah salah satu comfort food di sana. Nasi dengan beragam lauk ala warteg gitu. Selain yang gue makan ini, masih...