Langsung ke konten utama

Postingan

Cerpen Gue

Buat refresh nih blog dan pikiran gue. Cerita bersambungnya gue pending dulu sejenak. Sedikit berbumbu klasik, tapi little bit true I think~ CINTA KARENA TERBIASA “Gue gak tau ke depannya gimana. Kenapa kita kayak gini? Atau emang kita emang gak yakin akan diri masing-masing? Perasaan gue, kita ini udah lebih dari dua tahun kayak gini. Jalan bareng, ngobrol bareng, susah-seneng bareng. Orang nganggep kita ini temen. Malahan orang yang gak kenal kita, nganggep kita ini pacaran. Jujur. Gue bingung.” “Ardi! Ardi! Makan dulu! Dari pulang sekolah, kamu belum makan lho!” Teriakan tadi membuat Ardi kaget dan sejenak melupakan tulisannya. “Iya, Ma!” “Di, si Mira gak ke sini? Biasanya, jam segini kalian berdua lagi asyik-asyiknya ngerjain PR? Ke mana dia?” “Aku rasa dia lagi les.” “Les? Baru tau mama. Les di mana?” “Di GO, tadi sih dia bilang bareng temen smp berangkatnya.” “Ya sudah. Lebih baik, kamu makan aja dulu.” Ardi pria unik. Bahkan, langka untuk seorang pri...

Akhir yang Sungguh Indah (bag. 5)

Kali ini, cerita gue masih ada kaitannya dengan bagian 4. Nah, judul kali ini "Merapikan Nestapa". Bersambung sampai bagian 3. Pokoknya, selama liburan kali ini, gue akan terbitin 2 atau 3 postingan. By the way, Selamat Hari Natal! Merry Christmas for all! Semoga kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bisa membawa kedamaian buat semua orang.. Happy Holiday!! ^_^ Chapter 5: Merapikan Nestapa (1 st Part) “Hai!” teriak seorang wanita mirip Lisa. “Rif, kita ke sana yuk ?” ajak Lisa padaku menemui wanita tadi. “Ya sudah.” Batinku rasanya tepat. Dia, yang tadi menyapaku, adalah Lita. Dia mirip sekali dengan Lisa. Mereka tampak kembar. “Hai, Lis! Aku sudah lama menunggumu. Ini siapa?” tanya wanita itu sambil menunjuk diriku. “Kau masih ingat Arief? Teman kita dulu sewaktu SD? Nah, ini dia orangnya!” seru Lisa menjelaskan. “Ah! I see! Masih ingat aku?” “Lita, bukan?” “ That’s right! Kau masih sama seperti dulu ya? Hahaha..” “Bisa saja kau, Lit! Seharusnya...

Akhir yang Sungguh Indah (bag. 4)

Ini adalah lanjutan cerita gue. Kisah khayalan gue tentang pertemuan pacar masa kecil gue. Cerita ini menjadi awal cerita selanjutnya. Dan, mulai selanjutnya, gue akan fokus pada cerita-cerita gue.. Chapter 4: Bagian Kehidupan yang Lain 2 Januari 2015, 06.00 Aku memang terbiasa bangun pada jam seperti ini. Kebiasaan yang sudah dimulai dari SMP. Rasa kantukku masih sangat terasa. Mimpi tadi malam memang benar-benar luar biasa. Mimpi yang sangat nyata. Mimpi yang sangat berbekas padaku. Hari ini, aku ada jadwal kuliah. Aku baru saja mengikuti semester dua di fakultas Sastra Inggris. Memang, inilah yang aku harapkan dari dulu. Cita-citaku yang membuat aku sampai pada tahap ini. Aku bertekad, setelah lulus nanti, aku ingin bekerja di kedutaan yang ada di luar negeri. Aku pergi biasa menggunakan angkutan umum. Aku tak terbiasa pergi kuliah dengan mobilku. Menurutku, jika aku pergi dengan mobil, justru akan membuat Jakarta tambah macet. Dalam perjalanan di dalam bis kota, ...