Langsung ke konten utama

Jika Kamu Menjadi "Latah"

Dari judulnya aja, lo semua tau apa yang akan gue bicara'in di sini. Betul, LATAH! Nyebutin lima huruf itu jadi satu kata sih gampang, tapi yang menderita akan capek minta ampun!

Hari ini adalah puncaknya gue latah. Selama 16 tahun gue hidup, baru dua kali gue begini. Pertama, pas kelas 10, dan yang kedua pas di sekolah tadi. Sampe sekarang, gue jarang banget nemuin bahasan tentang latah. Kalo buat gue, latah itu adalah penyakit asli orang Indonesia. Kenapa? Karena orang bule susah (dan gak mungkin) bisa latah. Coba aja lo bayangin bule latah, masa' nyebut-nyebut ayam gitu?! (chicken..chicken..)

Trus lagi, 95% orang latah adalah orang gemuk. Liat aja pelawak-pelawak terkenal yang latah. Sisanya, adalah orang Betawi dan emak-emak kampung. Di TV banyak yang latah, sebut aja Mpok Atiek, Ruben, Olga, (Alm.) Ade Namnung, Parto dan masih banyak lagi. Dan gue juga pernah denger tentang cafe yang semua pelayannya latah. Comedy Cafe kalo gak salah. Bener gak gue?

Seandainya itu bener, gue gak bisa ngebayanginnya! Pasti di cafe itu gak akan ada drum atau sejenisnya buat live music, karena akan sangat berisik dan kacau suasananya. Pengunjung cafe itu juga akan kena sindrom menular L4T4H (baca: LATAH -_-v). Dan pelayan-pelayannya yang gemuk akan kurus dalam jangka waktu seminggu.

Back to topic. Gue sendiri sih ada seneng-dukanya kalo latah begini. Sukanya banyak. Bisa ngebuat orang ketawa. Bikin ketawa orang juga bisa dapet pahala 'kan? Lagian, gue juga seneng kalo orang terhibur sama gue. Trus, juga bisa memperbanyak temen. Ini adalah salah satu cara tergampang buat gue kenal sama banyak orang di lingkungan baru. Plus, gue juga bisa kurus dengan sendirinya karena keringetan. Dukanya, gue harus siap diliat orang banyak dengan banyak ekspresi. Bisa seneng, ketawa, heran, atau nganggep gue jayus. Satu lagi, gue akan kerasa capek minta ampun beberapa menit setelahnya.

Gue ingetin buat orang yang latah nih. Gak usah malu atau gimana dengan latah lo. Buat gue, latah itu juga jadi salah satu identitas termudah dari kita. Gak apa-apa kalo lo punya image "orang latah". Pikirin aja efek-efek yang baik dari latah tadi. Terutama buat kita kaum cowok. Gak usah malu, bro! Kalo cewek lo pada ilfeel sama lo, lo harus buat image lain selain latah, entah pinter, ganteng, atau yang lainnya.. B-)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...