Langsung ke konten utama

Toleransi

Ini bukan tulisan buat pr PKn atau sejenisnya. Gue cuma ceritain pengalaman bertoleransi di sekitar gue aja. Toleransi biasanya identik dengan menghargai dan menghormati agama. Tapi, kalo buat gue gak cuma itu doang. Toleransi gak cuma buat agama, tapi bisa juga sikap, pandangan atau ideologi lainnya.

Dari gue lahir sampe sekarang ini,gue baru ngerasa tentang toleransi waktu SMP, 'cause pas SD sekolah gue emang sekolah yayasan gitu. Jadi semua yang di situ rata-rata satu agama. Balik lagi ke topik..
Mungkin cuma SMP gue yang ada satu kebiasaan sebelum belajar, yaitu budaya baca Kitab Suci (kasarannya "ngaji"). Yap, sekolah lain di kota gue, atau bahkan di Indonesia ini, gak ada kegiatan kayak gini. Walau mayoritasnya adalah Islam, tapi gue dan temen-temen gue yang berbeda juga bisa baca Kitab Sucinya masing-masing. Pertama-tama emang aneh, tapi seterusnya jadi biasa.

Trus, pas temen-temen yang Islam ngeliat Alkitab gue, mereka banyak yang penasaran. Gue sih gak masalah mereka ngeliat, toh gue juga kadang-kadang denger mereka ngaji koq. Banyak dari mereka yang bersikap kayak "cukup tau" jadi gak terlalu ambisius buat nanya-nanya. Ada yang pengen banget tau. Dan ada juga yang (mungkin) gak seneng sama gue.

Nah, pas SMA inilah sikap toleransi lumayan keliatan. Pas kelas 10 ada 2 orang yang non-Muslim. Gue yang beragama Katolik, plus yang agamanya Hindu. Temen gue yang satunya ini, agak sedikit "freak", gak jelas dan absurd. So, temen sekelas pada ngejauhin dia. Walau gitu, semua pada hati-hati dalam ngucap yang berbau SARA, apalagi agama. Mereka udah sadar sendiri koq, kalo semua agama baik dan gak ada yang jahat.

Belakangan ini juga, kita sering denger tentang izin pembangunan rumah ibadah yang kagak selesai dari kemaren. Ujung-ujungnya konflik yang anarkis. Ada lagi yang udah sealiran pun, masih ada selisih paham juga. Kayak yang di ******* (sensor, depannya "sam" belakangnya "pang"). Konflik berkepanjangan pun terjadi.

Kalo buat gue ya, antar agama itu seharusnya bisa lebih terbuka pikirannya, terutama sih buat umatnya. Jangan gampang terpancing sama isu-isu yang gak jelas. Syukur-syukur kalo ada akulturasi antar agama. Kayak Masjid Cheng Ho (Masjid yang bernuansa Cina), Masjid yang ada di Kudus (bernuansa Hindu dan Jawa) atau Gereja Santa Maria de Fatima (bernuansa Cina).
So, hargailah sesamamu seperti lo nge-hargain diri lo sendiri.. B-)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...