Langsung ke konten utama

Indah Pada Waktunya (tamat)

Ini adalah cerita terakhir. Kali ini, ceritanya gue buat cepet tetapi ending-nya masih "gantung". Mudah-mudahan, gue akan sambung ceritanya dengan tema yang agak "santai" tapi tetep dengan gaya gue. 

Chapter 6: Waktu Tuhan Indah Memang, Namun....
Minggu, 30 September 2012
Pagi tadi, aku mengigau. Rasa-rasanya aku memimpikan dia lagi. Bukan Siska yang selama ini aku incar sebagai pacarku, namun Putri. Di mimpiku itu, semuanya terasa nyata sekali. Aku duduk bersebelahan dengan Putri. Dekat sekali, bahkan badan kami pun terasa menyentuh satu sama lain. Kemudian, tanganku tak sengaja menyentuh tangan Putri. Entah siapa yang memulainya, tanganku langsung menggenggam tangan Putri dengan erat. Jari-jari kami erat menggenggam seperti orang ingin berdoa di agamaku.
Apa yang terjadi denganku? Aku yang jarang bermimpi, kini bermimpi. Tidak sekedar mimpi biasa, namun memimpikan orang yang dulu aku cintai. Padahal, aku sudah berusaha melupakannya. Tapi, mengapa aku memimpikan dia?

Jumat, 5 Oktober 2012
Handphone ku berbunyi ketika aku mulai menyiapkan pakaian untuk sekolah nanti. Ternyata, itu SMS dari Putri.
Arief! Mtk udah belom? Mau liat.. ._.
Lalu, kubalas SMS itu. Iya.. Nanti ya, Put?
Sebenarnya, kemarin dia sudah ingin melihat PR Matematika milikku. Padahal, aku ada niatan untuk melihat PR-nya Putri itu. Tapi, justru dia yang ingin lihat.
Sampai di kelas, aku masuk dan menuju tempat duduk di belakang Putri.
“Arief!! Lihat!” serunya melihatku datang.
“Putri!! Iya. Nih!” balasku membalas sapaan Putri tadi kemudian memberi bukuku padanya.
Sejak kelas sebelas, hubunganku dengan Putri semakin erat. Terlebih pada beberapa hari ini. Sepertinya, aku ingin terus melindungi dan memberi perhatian padanya. Beda dengan hubunganku ketika kelas sepuluh. Ingin bicara saja, aku sulit. Mungkin, karena dulu aku masih malu padanya.

Sabtu, 6 Oktober 2012
Hari ini cuma bawa buku biologi doang ‘kan?
Seperti kemarin, Putri mengirim SMS padaku. Hal yang jarang ia lakukan ketika dulu kelas sepuluh.
Aku sih bawa buku kayak biasanya.
Dia membalas. Aduh! Aku udah di jalan ini. Gimana, Rief?!
Aku juga gak tahu, Put..
“Arief, kamu bawa buku semuanya?” tanya Putri sambil menatapku dengan perasaan gelisah.
“Iya. Tenang saja, Put. Nanti juga ada yang seperti kamu koq,” jawabku menenangkan dia.
Dia menatapku lagi. Aku tak tahu bagaimana tatapan seorang wanita kepada pacar prianya. Namun, rasanya aku sedang mengalaminya. Dia seperti tergantung padaku. Tatapannya sungguh membangkitkan perasaan cintaku lagi padanya. Ingin rasanya aku genggam tangannya dan ku tenangkan dirinya.
Pelajaran pertama pun dimulai. Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan penuh. Sebagian pikiranku dipenuhi diri Putri. Aku terus memandangi diri Putri dari belakang. Terlintas di pikiranku, apakah aku masih cinta dengannya? Apakah Putri juga masih suka denganku seperti dulu? Haruskah aku menyatakan cinta lagi padanya? Dan, nantinya apa yang akan terjadi seandainya hal itu benar-benar aku lakukan?
Aku jadi teringat lagu Marcell yang berjudul “Peri Cintaku”. Di salah satu liriknya, ada yang berbunyi seperti ini. Aku untuk kamu, kamu untuk aku. Namun semua, apa mungkin iman kita yang berbeda? Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi, meski cinta tak ‘kan bisa pergi.
Lirik itu seperti mengisahkan diriku. Aku yang suka dan cinta pada Putri, harus terbentengi oleh agama kita yang beerbeda. Itulah alasan Putri menolakku.
“Tapi, kamu suka sama aku ‘kan?” tanyaku pada Putri.
“Iya, sih. Tapi, kita ‘kan beda agama, Rief.”
***
Ternyata, hari ini hanya belajar pada jam pelajaran pertama. Sepanjang waktu itulah diriku dan Putri semakin dekat. Dia mengeluh padaku, “Bete. Mau pulang.”
“Sabar. Nanti juga pulang, Put.”
“Aku juga lapar.”
“Ya, makanlah kamu. Gimana sih?”
Dalam hati, aku sangatlah senang. Kejadian ini jarang sekali terjadi. Dia dan aku selalu dekat, lalu dia mengeluh padaku seakan jadi pacarnya. Meski begitu, aku tahu ada orang yang cemburu saat aku dekat dengan Putri. Sepertinya, Lana tidak suka aku dekat dengan Putri.
Lana adalah seorang pria berbadan tinggi besar. Ia seorang anggota Paskibara sekolah. Dia juga ikut ekstrakurikuler beladiri. Aku tahu dia suka dengan Putri dari ucapannya. Dia bercerita padaku kalau Putri sulit dihubungi, apalagi kalau mau di-SMS. Dia juga kelihatan bingung kalau harus bicara di depan Putri langsung.
Hal yang Lana alami sama seperti pengalamanku ketika pertama kali ingin berkenalan dengan Putri dulu. Bingung ingin membicarakan apa dengannya. Kalau di-SMS jarang dibalas. Dan hal-hal lain yang menyiratkan kalau Putri itu sulit didekati.
Dia melihatku dengan sinis ketika bercanda dengan Putri. Aku tahu perasaan sinis campur cemburu itu. Dulu, saat Putri masih berpacaran dengan Rezki, aku juga cemburu melihatnya.
Sebenarnya, aku tidak ingin suka atau bahkan berpacaran dengan Putri. Namun, entah mengapa, aku dan dia semakin dekat saja seminggu ini. Memang, perasaan ingin melindungi dirinya masih ada. Namun, aku tidak ingin mengulang kejadian yang sama.
Ketika aku tidak bersama Putri, aku bicara pada Lana. “Maafkan aku, Lan. Aku hanya teman dengan Putri. Tidak ada hubungan spesial koq. Aku yakin, kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan drinya.”
“Tidak mungkin. Aku lihat, kalian malah lebih akrab dari biasanya, Rif. Kalian cocok,” jelas Lana padaku.
“Tidak bisa, Lan. Kau tahu ‘kan? Dulu aku sudah pernah nembak Putri dan hasilnya, aku ditolak karena beda agama. Kau dan dia seiman, bukan? Jadi, mungkin-mungkin saja kalau kamu berpacaran dengannya.”
“Ya, kita lihat nanti saja,” terang Lana padaku kemudian pergi.

Kamis, 27 Desember 2012
Aku kembali teringat perasaan cinta yang ku alami dengan Putri beberapa bulan yang lalu. Tetapi, aku segera hilangkan lamunanku itu. Aku harus berkonsentrasi mengemudikan mobilku ini. Di sampingku, ku lihat Siska. Tak terasa, sudah empat hari ini aku dekat dengannya. Berkenalan di Gereja kemudian menjadi sepasang kekasih sehari setelah Natal.
Setelah diamati, Natal kali ini bermakna untukku. Semua harapan, keinginan, dan cita-citaku hampir terlaksana. Aku yang ingin punya pacar, sudah mendapatkannya. Kedua orang tuaku pun sudah kembali akrab. Terima kasih Tuhan, semua indah pada waktu-Mu.
Namun, ada satu pertanyaanku yang belum terjawab. Apakah ini jadi akhir yang benar-benar “terakhir”?
~SELESAI~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

AASLII, GA ADA OBAT MEN!! PERTAMA KALI NYOBAIN BOBA, LANGSUNG ENAK!! REVIEW MINUMCUI PUNYANYA NEX CARLOS! #JAJANbag5

Ketenaran seseorang bisa menjadi aji mumpung si orang itu. Bisa jadi dia merambah ke bidang lain, seperti berdagang atau bisnis. Kalau dilakukan dengan sungguh, usaha atau dagangan si pesohor itu pasti akan sukses. Pasti akan laris dibeli oleh konsumen. Tak terkecuali Nex Carlos , seorang Youtuber kenamaan yang dikenal sebagai pelopor Makan Keliling Indonesia dengan sapaan khasnya, "YO MAMEEN!" dan "MAKAN CUY!" Usaha baru Nex Carlos MinumcUi Setelah sukses dengan Youtube dan restoran Ayam Gedebuk, sekarang Nex Carlos bikin usaha minuman kekinian yang dikasih nama Minum cUi. Kalian bisa kepoin instagramnya di sini yaa . Gimana ya rasa minuman kekinian ala Mamen satu ini? Inilah dia. #JAJANbag5 Ulasan Minum cUi Punya Nex Carlos Gue pertama kali tau ada foodvlogger Nex Carlos dari video-video Ricky Santoso. Ricky punya konten yang hits waktu itu, namanya Keliling Indonesia Gratis (KIG) . Nex ikut sama Ricky untuk keliling Indonesia sambil nyobain ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...