Langsung ke konten utama

Unpredictable Jokes from (Alm.) Jojon



Mulanya tadi pagi, abis ngerjain ujian praktek Bahasa Inggris. Salah satu temen gue bilang ke temen gue yang lain, kalo ada orang terkenal yang meninggal. Dia kira salah satu pemain bola yang dia tau, tapi si pemberitahu kabar bilang kalo yang meninggal seorang pelawak. Ya, beliau adalah H. Jojon.

Pria yang lahir tanggal 5 Juli 1947 dengan nama Djuhri Masdjan ini, emang patut dijadikan contoh buat para pelawak khususnya, dan buat semua orang pada umumnya. Beliau adalah salah satu pelawak yang punya sense of humor yang tinggi.

Hanya lewat sebuah tik-tok sederhana, beliau bisa membuat penonton tertawa. Atau bahkan tanpa mengeluarkan kata-kata pun, ia bisa membuat orang terbahak-bahak. Ini ia lakukan dengan pelawak mana saja. Mau yang senior lah, yang pake pedoman slapstick lah, comic stand up comedy, atau sama pelawak baru pun dia gak segan ngelempar atau nangkep joke yang dikasih. Monolog pun ia sangat lucu.

Ngeliat background Jojon dari sebuah grup lawak juga, bernama Jayakarta, ia juga udah biasa dengan sketsa komedi yang sudah dibuat sebelumnya. Namun tak jarang, beliau melawak tidak on script, hanya berdasar pancingan teman mainnya. Itu pula yang bikin beliau gampang beradaptasi sama tempat kerjanya.

Another side dari beliau adalah joke-joke yang ia keluarkan spontan tapi sopan. Gak kayak (maaf) kebanyakan pelawak sekarang yang “asal jeplak” tanpa mikirin efek sampingnya, beliau justru tetap lucu walau susunan candaannya rapi.

Beliau juga sering act out yang tak terduga. Misal, ketika lawan mainnya ngeledek dia, dia akan berakting seolah-olah anak kecil yang ngambek. Atau saat temen mainnya ngondek, beliau juga akan ikut seperti itu. Walau itu sering dilakukan pelawak lain, tapi hanya Jojon yang bisa melakukannya dengan sempurna.

Satu yang ngebuat gue nulis ini adalah kekaguman gue pada sosok beliau. Gue rasa (dan menurut para artis saat ini di TV) beliau adalah legenda lawak yang tidak ada bandingannya. Tidak ada orang yang bisa menandingi roh melawak beliau. TIDAK ADA JOJON KEDUA.

Semoga beliau dapat diterima di sisi Tuhan YME. Amin... #PrayForJojon

nb: yang gue tebelin itu hal-hal yang gue bikin kagum sama beliau~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...

Another Stories (1)

Aduh Aing   *this text is inspired by one of my friend* Pernah suatu kali, dosen gue bilang kalo kita pusing gegara cuma mikirin tugas dan gak sesegera mungkin ngerjain itu. Ya. Gue ulang ya. CUMA DIPIKIR DOANG. Serajin-rajinnya seorang mahasiswa, gue rasa tugas gak akan berhenti mengalir deh. Terus ngalir kayak air kali bebas hambatan gitu(?) Entah ini terjadi di mahasiswa jurusan lain atau tidak ya, yang jelas, signature dari anak biologi di kampus gue tuh adalah ngerjain tugas dimanapun dan kapanpun. Seriously . Deket rektorat, di kosan temen, di rumah, sampai di kelas. Pagi, siang, sore, malem, dinihari, subuh, dan seterusnya. Kayak bagan alir rutinitas yang kayaknya begitu-begitu aja. Ini gak akan kami lakukan ketika UAS dan liburan UAS-nya ya. Ah, gak juga sih. Rerata, menjelang sampai setelah UAS masih ada tugas koq. -__- Seperti yang gue tulis setelah judul, postingan ini terinspirasi dari salah satu temen gue yang...nggg.... Apa ya gue bilangnya tuh?...