Langsung ke konten utama

-PUISI 1-

suka hujan

karya: aloysius arief suhartono


aku suka hujan.
awan jadi hitam
angin semilir
buat daun jatuh.

bisa-bisanya ada orang yang tidak suka hujan.
biasanya mereka berkata begini

"ah, hujan menyebalkan! mana bisa aku sampai dengan rapi kalau basah begini?"

atau

"masa sepatuku kena becek sih? sialan emang si hujan!"

dan masih banyak umpatan lain.

wajar kalau ada yang beda opini.
kalau dibatasi, manalah mungkin aku dan kausuka berdebat?
aku hargai semua itu.
tidak masalah.
betul!
tidak masalah.

aku teringat salah satu dialog dari animasi negeri sebrang itu,
hujan adalah rahmat.
begitu katanya.
tiap tetesan air yang jatuh
bertanda ada jiwa yang gembira di belahan bumi ini
bertanda ada jiwa yang senang di tempat lain
bertanda ada sosok yang riang di kesendirian yang ramai itu.

aku, dan mungkin kau, yang suka hujan
pasti suka bukan karena airnya
bukan pula karena anginnya
dan juga bukan karena basahnya
tapi karena kami suka dengan emosi yang tertumpah di sana.

hitunglah berapa banyak insan yang suka menangis di saat hujan.
hitung pula berapa banyak individu yang suka sendu di saat hujan.
banyak?
banyak!
yakin aku.
kami suka tapi kami benci
menjadikan negasi di dalam diri.

~
tidak tepat kaumenghujat hujan
apa hajatmu sehingga kauhujat hujan?
tidakkah kaumerasa jahat menghujat hujan?
Sang Pemberi Hujan tidak suka dihujat oleh si jahat yang tidak punya hajat.
~

INGAT ITU...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarkom-Jarkoman (bag. 1)

Pekerjaan paling ribet untuk gue saat ini adalah ketika gue harus kasih kabar ke temen-temen sekelas kalo ada info penting, yang terkadang mendadak juga. Let’s say it with “JARKOM”. Awal-awal jadi ketua kelas, gue bingung istilah untuk frase “kasih tau yang lain yaa ;)” itu apa. Dan ketemulah gue dengan kata ini ==> JARKOM. JARKOM alias JARingan KOMunikasi(?) inilah awal hidup gue yang baru. *lho koq baru geh?* (geh=aksen orang Serang, artinya kayak sih atau masa , tergantung konteks). Kenapa jadi bahas geh-geh’an geh(?) Dari jarkom-jarkoman ini, gue ngerti bahwa manusia di dunia ini berbeda-beda dan unik. Gak usah dunia deh, sepropinsi aja udah beda-beda. Gue lahir dan tinggal di Kota Tangerang. Walau nih kota masuk propinsi Banten, tapi masalah budaya cenderung mirip Betawi. Gue gak bilang kalo Tangerang itu bagian suku Betawi atau Sunda atau Banten atau Amerika *plaak* tapi kalo diliat-liat ya emang beda sama kota/kabupaten lain di Banten. Itulah sebabnya, gue ...

AASLII, GA ADA OBAT MEN!! PERTAMA KALI NYOBAIN BOBA, LANGSUNG ENAK!! REVIEW MINUMCUI PUNYANYA NEX CARLOS! #JAJANbag5

Ketenaran seseorang bisa menjadi aji mumpung si orang itu. Bisa jadi dia merambah ke bidang lain, seperti berdagang atau bisnis. Kalau dilakukan dengan sungguh, usaha atau dagangan si pesohor itu pasti akan sukses. Pasti akan laris dibeli oleh konsumen. Tak terkecuali Nex Carlos , seorang Youtuber kenamaan yang dikenal sebagai pelopor Makan Keliling Indonesia dengan sapaan khasnya, "YO MAMEEN!" dan "MAKAN CUY!" Usaha baru Nex Carlos MinumcUi Setelah sukses dengan Youtube dan restoran Ayam Gedebuk, sekarang Nex Carlos bikin usaha minuman kekinian yang dikasih nama Minum cUi. Kalian bisa kepoin instagramnya di sini yaa . Gimana ya rasa minuman kekinian ala Mamen satu ini? Inilah dia. #JAJANbag5 Ulasan Minum cUi Punya Nex Carlos Gue pertama kali tau ada foodvlogger Nex Carlos dari video-video Ricky Santoso. Ricky punya konten yang hits waktu itu, namanya Keliling Indonesia Gratis (KIG) . Nex ikut sama Ricky untuk keliling Indonesia sambil nyobain ...

Indah Pada Waktunya (bag.1)

*Cerita fiksi, tapi ada kesamaan nama dan peristiwa yg gue sengaja. Terinspirasi dari kehidupan gue. Indah Pada Waktunya Minggu, 23 Desember 2012 Hari ini 23 Desember 2012. Seperti biasa, aku pergi ke Gereja untuk mengikuti Misa, kata yang layak digunakan umat Katolik menyebut “ibadah”. Tepat di deretan bangku ketiga dari belakang, ia duduk. Ya, yang ku maksud adalah seorang wanita yang aku kagumi. Dialah alasan mengapa aku lebih dan selalu memilih pergi pada jam sembilan pagi. Cantik dengan senyum yang indah dan selalu datang sendiri. Itulah yang menjadi “misteri” bagiku. Entahlah. Toh , aku ikut Misa karena Tuhan dan bukan dia. Deretan depan sampai tengah sudah terisi penuh. Maklum, itu adalah dua hari menjelang Natal. Jadi, orang lebih antusias datang. Ya sudah. Aku lalu duduk di deretan ketiga dari belakang dan kebetulan, duduk di samping kirinya. “Permisi,” kataku pelan. Ia hanya tersenyum padaku. Seketika, jadi salah tingkah karenanya. Kulanjutkan berdoa sebenta...